Pages

Sabtu, 18 Mei 2013

pesantren darussalam ciamis

SEJARAH PESANTREN DARUSSALAM

Diatas sebidang tanah wakaf dari Mas Astapraja dan Siti hasanah Tahun 1929 kyai fadlil mendirikan pesantren Cidewa dengan modal 3 susunan sederhana, Rumahnya, mesjid dan pondok. Dalam waktu yang singkat  pesantren yang diperjuangkan menjelma menjadi lembaga pendidikan yang disegani dengan ratusan santri mondok di dalamnya. Santri yang pertama mondok disana adalah pemuda setempat yang tidak saja diajari ilmu agama tapi juga diajak bercocok tanam.

Dengan berkembangnya pesantren yang begitu pesat, ini menimbulkan orang belanda iri pada saat itu. Mereka seolah tidak suka bahkan setelah indonesia menyatakan merdeka, belanda enggan mengakuinya dan bersikukuh menganggap diri mereka sebagai ras yang layak menjaga alih ras sawo matang. Pada 1948 mereka melancarkan agresi militer yang dampaknya juga dirasakan penduduk pedesaan. Semua laki-laki dewasa cidewa  ditahan, termasuk 15 santri cidewa.

Alhasil Kyai Fadlil dan cep Baim(Panggilan untuk pak Irfan Hielmy) yang saat itu berusia 15 tahun menyelamatkan diri pergi kekawasan pegunungan mengikuti rombongan Darul Islam. Mereka berpindah dari satu hutan ke hutan lain dikawasan Bojong. Dikawasan pegunungan itulah kyai ahmad Fadlil menghasilkan karya-karya termasuk terjemah kitab al-burdah.

Pada tahun 1950, kyai Ahmad Fadlil meninggal sementara Cep Baim pulang ke Cidewa untuk meneruskan perjuangan ayahanda. Setelah kyai irfan Hielmy merasa cukup siap untuk memimpin maka para sesepuh menyerahkan kepemimpinan pesantren pada beliau.

Pesantren Cidewa terus berkembang dan santri semakin banyak . Akhirnya Kyai Irfan pada tahun 1963 memutusakan untuk memindahkan pesantren ke bawah. Pada tahun itu pula nama pesantren Cidewa berganti menjadi Balai Pendidikan Pondok Pesantren Darussalam Cidewa Ciamis. Tapi, Pada tahun 1977 kata Cidewa dihilangakan menjadi Pondok Pesantren Darussalam.  Sejak tahun 1967 Pesantren Darussalam menjadi pesantren yang modern yang ditandai dengan berdirinya lembaga pendidikan formal .

“Ranah Indah Nyiur Melambai” itulah sebutan  yang diberikan Kyai Irfan Hielmy untuk pesantren yang dicintainya ini. Julukan itu menggambarkan kedamaian dan kesejukan yang dirasakan didalamnya.

Darussalam juga mempunyai Ciri khas dengan Motto pesantren Darussalam:
Membangun Muslim Moderat, mukmin Demokrat, dan muhsin diplomat.

Sejengkal kenangan dan setetes ilmu yang diperoleh dari hasil mondok akan membuka cakrwala kehidupan sejati seorang santri saat mereka hidup ditengah-tengah umat.

Sejarah tak akan terulang, gunakan tinta emas dalam hidupmu di pesantren . Jadilah Muslim Moderat, mukmin demokrat dan muhsin diplomat.

Seputar IAID

INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM

IAID adalah perguruan tinggi agama islam dibawah naungan pondok pesantren Darussalam. IAID lahir pada tanggal 1 juni 1970. Pada saat itu, IAID menjadi kebanggaan tersendiri  karena menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang ada di kabupaten ciamis.

IAID ini awalnya  hanya memiliki satu fakultas yaitu fakultas syariah. Seiring berkmbngnya zaman, dengan semangat dan kerja keras IAID akhirnya memiliki 4 fakultas yaitu Syariah, Tarbiyah, dakwah dan ushuluddin. Tapi sekarang hanya ada 2 fakultas yaitu fakultas Syariah dengan program Akhwal Al Syakhsiyah dan fakultas  Tarbiyah PGMI,  PAI dan Program Pascasarjana/s2(program pendidikan islam).

Selain IAID darussalam juga mempunyai lembaga pendidikan formal lainnya, yaitu mulai dari RA sebagai lembaga pendidikan pertama didirikan(1967),MI(1968), MTS(1968), MA(1969) dan satu lagi lembaga pendidikan swasta  SMA(2003) dan IAID adalah lembaga pendidikan tinggi di darussalam.
Seluruh lembaga pendidikan di Darussalam ini termasuk IAID memiliki Visi pokok yaitu mewujudkan warga belajar yang beriman dan bertakwa, menjunjung tradisi berprestasi , profesional dalam layanan serta mengantarkan para santrinya menuju kemuliaan hidup dan kebahagiaan masa depan.

Jadilah Generasi muda yang penuh dengan semangat dan idealisme demi tercapainya cita-cita baldah tayyibah wa rabbun ghafur (KH Irfan HIelmy).

Diri ini...

About me

Siti Anisah, itulah namanya cukup sederhan namun punya arti khusus sebutan lazim untuk seorang perempuan. Tapi kadang teman-teman memanggilku dengan banyak landian.  Ada yang memanggil Mba Iti, Nisa, Icha, Siti, Sita, Anisah.. hah dan semua panggilan itu aku terima dengan ikhlas sebagai tanda kedekatanku dengan mereka.

Aku bersyukur bisa lahir kedunia ini, bisa menikmati indahnya alam jagat raya ini. Aku adalah seorang pemenang, dimana ketika aku berada dalam rahim mengalahkan berjuta sel lainnya yang masing-masing berjuang untuk bisa hidup. Inilah sosok nisa tak ada yang perlu dibanggakan mungkin, cukup bersyukur dengan keadaan yang diberikan tuhan.
Aku lahir di tasikmalaya tepatnya tanggal 21 mei 1994 . Kalau harus menceritakan masa kecilku aku tidak ingat. Hanya saja pasti masa kecilku bahagia karena aku bisa seperti sekarang ini dalam keadaan sehat walapiat.

Disini aku akan menceritakan tentang riwayat pendidikanku saja . Biasanya sebelum masuk pendidikan dasar anak-anak masuk ke TK terlebih dulu, tapi tidak untuk aku, krena memang tempatnya cukup jauh dan juga tidak ada teman sebaya di kampungku yang kesana, maka tahun 2000 aku mulai masuk Sekolah dasar di SDN Mekarsari yang alhamdulilah lulus dengan hasil cukup memuaskan,  terus aku melanjutkan ke SMP N I Parungponteng  tepatnya di daerah Dangdeur, perjalanan selama 3 tahun sekolah di sana butuh perjuangan yang cukup besar karena jarak yang ditempuh cukup jauh. Dengan semangat dan kerja keras akhirnya aku bisa lulus dengan predikat baik. Setelah Lulus dari sana sempat bingung juga harus melanjutkan kemana. Beberpa minggu aku mencari –cari informasi tentang sekolah lanjutan atas, tapi hasilnya kurang memuaskan. Banyak sekali hal-hal yang kurang sejalan dengan keadaan ku. Hingga akhirnya suatu hari, entah ada angin dari mana tiba-tiba saja dalam pikiranku terbesit untuk masuk pesantren saja. Ternyata orangtuaku merespon dengan baik dan langsung esok harinya aku di ajak berkunjung ke Ponpes Darussalam. Mungkin hatiku terpikat dengan keadaan disana  dan Setelah survei aku memutusakn untuk langsung mendaftar. Sekolah yang kupilih disana adalah MAN Darussalam.

Disuatu malam aku merenung, aneh juga sih, dulu aku takut sekali masuk pesantren karena beranggapan bahwa pesantren itu tempat untuk orang-orang yang “nakal” dan harus menjalani bimbingan khusus. Tapi mngkin allah berkehendk lain, memberikan hidayahnya kepadaku yang pada akhirnya aku bisa berada di Ponpes Darussalam. Dengan niat yang ikhlas untuk menuntu ilmu gunaa bekal  dimasa depan nanti dan berharap bisa memanfaatkan ilmu yang didpatkan kepada orang lain.
Perjalanan Sekolah sambil Mesantren merupakan sejarah baru dalam hidupku. Ini sebuah kesempatan emas yang tidak boleh aku sia-siakan, aku harus belajar dengan sungguh-sungguh. Di MAN darussalam aku mengenal banyak teman dari berbagai daerah., jadi tau juga bahwa dunia ini memang luas dan masih banyak yang harus diketahui. Banyak sekali pengalaman-pengalaman yang kudapat, aku merasa begitu dekat dengan teman-temanku mungkin krena 24 jam kita bersama-sama mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi jadi serasa keluarga sendiri saja.

Detik-detik perpisahan kelas 3, rasanya sedih banget jika berpisah dengan mereka, ya karena kita sudah merasa nyaman dan sudah kuanggap keluarga sendiri. Tangispun tak bisa kubendung ketika perpisahan itu terjadi juga, sulit sekali untuk melepaskan kepergian mereka dari hidupku. Terlalu banyak kenangan-kenangan yang telaah kita lukis di darussalm ini, canda tawa, suka duka kita selalu lewati bersama. Yang pada akhirnya harus dipisahkan dengan jarak dan waktu. Walaubagaimanapun ini adalah siklus hidup, selalu berputar, ada pertemuan pasti ada perpisahan hidup ini selalu berlawanan.

Tuhan maha adil, di dunia ini masih banyak sekali yang belum kita ketahui kita kunjungi kita tafakuri sebagai bentuk rasa syukur kita atas alam ini.

Selain Menimba ilmu aku juga dibekali banyak pengalaman yang akan terus aku kenang. Dan sebagai pelajaran untuk masa depan.  Aku selalu ingat kata-kata Pak kyai, beliau mengatakan 2 hal yang tidak akan pernah dilupakan dalam hidup adalah teman ketika mesantren dan ketika berhaji. Dan memang benar apa yang kuraskan sekarang seprti itu.

3 tahun berlalu, allah masih menakdirkanku untuk mondok dan berada di darussalam ini dan aku melanjutkan studyku di IAID darusslam.